February 19, 2018

Libatkan kepala desa, cara Banyuwangi pacu kredit bank ke UMKM

Emas Banyuwangi

Banyuwangi, kabarbisnis.com: Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, punya cara unik untuk meningkatkan aksesibilitas kredit perbankan ke sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di daerahnya. Caranya antara lain dengan menggandeng semua kepala desa untuk dipertemukan dengan pihak perbankan.

“Dana pinjaman bergulir dari APBD pasti terbatas. Kalau diberi pinjaman pemerintah, masyarakat sering menganggapnya bantuan. Maka kunci utama ekonomi tetaplah perbankan. Karena itu, kita ajak semua kepala desa bersama-sama kerja sama dengan bank. Kepala desa jadi ujung tombak penyaluran kredit ke sektor produktif UMKM di desanya. Kerja sama melibatkan bank dengan kepala desa ini terutama untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR),” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

UMKM-UMKM di perdesaan, kata Anas, sering terkendala dengan faktor-faktor administrasi. Dalam hal ini, kepala desa ikut membantu bank yang akan menyalurkan kredit ke UMKM yang ada di desanya dengan menuntaskan berbagai surat administrasi yang dibutuhkan UMKM. Kepala desa juga yang bertindak aktif untuk melakukan edukasi keuangan ke masyarakatnya agar tertib berbisnis dan tertib mengangsur.

“Kepala desa berlomba-lomba, karena kami beri award jika penyaluran kredit di desanya besar. Nanti akhir tahun pas ulang tahun Banyuwangi, kepala desa yang paling gencar melakukan edukasi keuangan ini akan diberi penghargaan di pesta rakyat di Alun-Alun yang disaksikan puluhan ribu orang. Ini juga bagian dari upaya kami mendorong literasi keuangan, agar tidak ada lembaga keuangan non-formal yang hadir dengan bunga mencekik seperti rentenir,” ujar Anas yang merupakan alumnus Transformation Leadership Program di Harvard Kennedy School of Government, AS, tersebut.

Cara unik itu rupanya cukup efektif. Penyaluran KUR mencapai Rp 1,2 triliun. Adapun secara global, penyaluran kredit bank di Banyuwangi per April 2014 mencapai Rp 4,45 triliun.

Dorongan kredit perbankan dengan kepala desa itu ikut mendorong pertumbuhan ekonomi di Banyuwangi yang selalu melampaui rata-rata nasional dan Jawa Timur. Pada 2011, saat pertumbuhan nasional 6,5 persen dan Jatim 6,86 persen, pertumbuhan Banyuwangi mencapai 7,14 persen. Pada 2012, pertumbuhan Banyuwangi 7,29 persen, dan pada saat yang sama pertumbuhan nasional 6,23 persen dan Jatim 7,27 persen. Pada 2013, saat ekonomi sedikit melandai, pertumbuhan Banyuwangi mencapai 6,85 persen, di atas pertumbuhan nasional 5,78 persen dan Jatim 6,55 persen.

Pendapatan per kapita rakyat Banyuwangi sudah mencapai Rp 21,84 juta per tahun atau Rp 1,82 juta per bulan, melejit dari sebelumnya yang hanya Rp 15 juta. Peningkatan pendapatan per kapita ini tercatat paling tinggi dibanding kabupaten-kabupaten di sekitar Banyuwangi. “Bahkan sudah 15 tahun kami tidak mampu menyalip beberapa kabupaten lain di Jatim, termasuk sejumlah kabupaten yang tergolong besar, saat ini sudah kami salip pendapatan per kapitanya,” pungkas Anas. kbc5

banner 468x60