Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BUDAYA » Legenda Dewi Sri Tanjung & Asal Mula Nama Banyuwangi

Legenda Dewi Sri Tanjung & Asal Mula Nama Banyuwangi

(1330 Views) March 23, 2017 7:42 pm | Published by | No comment

Banjoewangie Tempo Doeloe | Legenda Asal Mula Nama Banyuwangi paling tidak ada lima buah cerita legenda ialah : Legenda Sri Tanjung, Ceritera Banterang – Surati, Babad Buleleng, Babad Blambangan (buah karya KRT Hary.a Notodiningrat Bupati Banyuwangi) dan Babad Tawang Alum. Di antara kelima nara sumber asal mula nama Banyuwangi itu yang paling populer dikalangan masyarakat, terutama di daerah Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya adalah Legenda Sri Tanjung. Tokoh Legendarisnya Dewi Sri Tanjung dan Raden Sidopekso menjadi kebanggaan dan tetap bersarang di hati masyarakat di daerah ini. Masyarakat Banyuwangi tidak sedikit yang beranggapan bahwa Sri Tanjung, Sidopekso dan Banyuwnagi merupakan suatu kenyataan dalam peristiwa sejarah yang berkait erat dengan nama tempat desa, kota dan lain-lain di daerah ini.

Berdasarkan hal tersebut, masyarakat Banyuwangi tetap mengabadikan nama Sri Tanjung sebagai nama tempat, organisasi, perkumpulan dan lain-lain, seperti : Taman Sri Tanjung, Toko Sri Tanjung, SMKK Sri Tanjung dan lain-lain.  Pemda Tingkat II Kabupaten Banyuwangi dalam upaya memupuk dan membangkitkan semangat juang agar masyarakat dengan memiliki kebanggaan tersendiri akan selalu berpartisipasi terhadap program Pemda setempat, tetap mencanangkan nama nara tokoh legendaris tersebut sebagai nama jalan di pusat kota ini Jalan Sri Tanjung terletak di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi (Shaba Swagata Blambangan). Sedang jalan Sidopekso terletak di dekat (samping kiri) Pendopo Kabupaten Banyuwangi dan masuk menuju Kelurahan Tumenggungan, Kecamatan Kota Banyuwangi.

Lukisan ceritera Legenda Sri Tanjung ternyata menarik perhatian beberapa sarjana untuk menyimaknya. Sebenarnya ceritera Sri Tanjung dapat digolongkan sebagai legenda dan dapat juga digolongkan sebagai mitos. Hal ini disebabkan di samping kisahnya tentang terjadinya suatu tempat, kota, desa dan lain-lain juga melibatkan Dewa dan Dewi Kahyangan, bahkan juga para jin, peri, roh halus dan semacamnya. Legenda Sri Tanjung sudah digubah dan dibukukan serta merupakan karya sastra murni. Sebagai karya sastra, ceriteranya mengenal banyak versi. Salah satu versi di antaranya telah diolah dalam bentuk puisi, yakni berupa tembang (lagu) berbahasa Jawa Tengahan disebut “Tembang Wukir.” Dua bait tembang Wukir itu berikut :

Ana carita ginurit kidung
ring radya sangkane,
apupuh kang tembang Wukir,
Ki Sidopekso jalu, .
estrine Dewi Sri Tanjung,
Bhatari Sri kang winuwus, Atutur kicara mangke.
tumurun amindha janma,
agawe pangewan-ewan.

Ki Sidipekso mangke winuwus,
satrlya sangkane,
‘sal saking pradesaneki,
kasyasih amlas ayun,
asuwita ring Sang Prabu,
ring Sindurejo sangkane,
asewaka tigang taun,
tur kinongkon mbebekelo,
‘de ma’raja Sulakromo.

Pada tahun 1978, Dosen IKIP Negeri Surabaya Drs. Suripan Sadi Hutomo ketika ia melawat ke negeri Belanda (Leiden) sempat membaca buku disertasi Prof. Dr. R. Prijono yang beijudul “Sri Tandjoeng, een Oud Javaansech Verhaal, Tahun 1938.” Garis besar ceritera tersebut juga dibacanya lewat buku “Kapustakan Jawi, Tahun 1934,” karya Prof. Dr. RM. Ng. Poerbotjaroko. Disamping itu juga pernah berkunjung ke Museum Blambangan (dulu di samping kiri depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi) dan sempat menyimak manuskrip (naskah tulisan tangan) yang berjudul “Sri Tanjung”. Menurut Dr. Suripan Sadi Hutomo, manuskrip Sri Tanjung yang tersimpan di Museum Blambangan itu jika dibandingkan yang berada di Leiden tergolong muda yang berasal dari zaman Sastra Jawa Tengahan periode akhir dan dapat diklasifikasikan sebagai “Naskah Versi Islam.” Hal itu terbukti di samping tulisannya berhuruf Arab Pegon, juga disertai dengan kata pembukaan “Bismillahirrahmanirrahin” dan ditutup dengan kalimat “Tamat kalam’alaihi wasallam bishshawab.”

Siapakah penulis atau penyalin manuskrip yang berada dalam Museum Blambangan itu dari naskah yang lebih tua? Dalam manuskrip itu disebutkan nama “Citrogotro.” Nama ini menurut Dr. Suripan Sadi Hutomo juga tercantum (terdapat) dalam naskah yang lebih tua, yakni naskah yang diteliti oleh Prof. Dr. R. Prijono. Dengan demikian sulit untuk menentukan dengan pasti siapa penggubah atau penyalin naskah Sri Tanjung versi Banyuwangi itu.

Drs. Suripan Sadi Hutomo mengetengahkan lima bait kutipan tembang Wukir dari manuskrip Sri Tanjung yang tersimpan di Musem Blambangan, sedang dua bait di antaranya adalah sebagai berikut
:
• Nora nana pinaran kayun,
amung ndika raden,
kang dadi rentenging ati,
wong ngarungih ariningsun,
den tulus sihira maskun,
wong aramping anglalentreyah,
mas mirah ariningsun,
kang sun teda ring larangan
lukare kekemben ndika.

• Sidopekso angemek pembayun,
dhuh mas mirah raden,
pangeran dhemese akuning,
amung ndika mirah ingsun.
sakecap sun tuku sewu,
sepuranen kula raden,
baya tan asih maringsun,
pangeran ingkang sun tedha,
puspitane ragandika

Lukisan dalam dua bait tembang Wukir tersebut cukup realistis dan menghidupkan suasana ceritera. Pada waktu Sidopekso merayu isterinya Sri Tanjung untuk diajak menunaikan kewajiban suami isteri.

Ceritera (Legenda) Sri Tanjung yang telah dibukukan baik yang tersimpan di Museum Leiden (Negeri Belanda) maupun di Museum Blambangan atau di mana saja merupakan karya sastra murmi. Legenda Sri Tanjung sebenarnya memiliki banyak versi dan yang paling populer di kalangan masyarakat, terutama masyarakat awam adalah “Versi Desa” yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Dari sekian banyak versi itu pada umumnya memiliki tema yang sama, hanya sebagian dari nama figurnya yang berbeda. Sebagai contoh, dalam Legenda Sri Tanjung yang telah diuraikan di atas, Begawan Tambapetra dari pedepokan Prangalas adalah kakek Sri Tanjung. Sedang dalam versi yang lain, nama Tambapetra disebut Pegawan Gumuk Batur dan dalam versi yang lain lagi disebut Buyut Kencur serta dinyatakan sebagai ayah Sri Tanjung. Perbedaan yang terdapat dalam versi yang lain, apabila dalam kisah Sri Tanjung tersebut diatas, perkawinan Sri Tanjung dengan Sidopekso mendapat restu dari Sang Begawan, namun dalam versi yang lain mengisahkan bahwa Sri Tanjung dilarikan oleh Raden Sidopekso dari pedepokan Prangalas yang akhirnya dipersunting sebagai isterinya. Dengan demikian perkawinan mereka berdua berdasarkan suka sama suka tanpa mendapat restu dari Sang Begawan. Dalam hal ini bahkan Dewi Sri Weni yang memberitahukan kepada Sang Begawan bahwa anaknya Sri Tanjung telah hilang dan dilarikan oleh Raden Sidopekso, walaupun dengan kesaktiannya Sang Begawan telah mengetahui segala peristiwa yang terjadi, bahkan antara Sri Tanjung dan Sidopekso itu telah diketahuinya pula bahwa keduanya masih cucunya sendiri.

Berdasarkan uraian dan inti ceritera di atas, terutama jika disimak dengan seksama nama para.tokoh ceriteranya, seperti: Dewi Sri Tanjung, Raden Sidopekso, Raden Sahadewa, Bethari Durga (Ra Nini), Hyang Indera, Bethari Uma dan lain-lain cukup jelas kiranya bahwa Ceritera (Legenda) Sri Tanjung bersumber dari “Ephos Mahabharata.” Sedang rakyat Blambangan ada yang menghubung hubungkan ceritera tersebut dengan sesuatu yang terdapat di daerah ini, seperti nama desa, kota, tempat dan lain-lain. Dalam hal penyesuaian dengan nama-nama tempat atau segala sesuatu yang diambil dari suatu ceritera yang amat populer di kalangan masyarakat agaknya sudah menjadi sifat dan watak bangsa Indonesia kala itu.

Hal tersebut besar kemungkinannya merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan Indonesianisasi dari Ephos Mahabharata. Beberapa contoh di antaranya : Di dekat kota Demak (Jawa Tengah) terdapat makam yang disebut “Makam Prabu Dharmakusuma” raja Amarta (keluarga Pendowo), di lereng Gunung Penanggungan (daerah Kabupaten Pasuruhan, Jawa Timur) juga terdapat suatu tempat yang disebut “Indrokilo” pertapaan Dyan Harjuna sebagai Begawan Mintorogo dalam lakon Harjuna wiwaha. Demikian pula di Mantingan daerah Kabupaten Ngawi (Jawa Timur) ada suatu tempat yang disebut “Tapak Bhima” (Harya Bhima Sena) dan masih ada lagi yang lain.

Sebagian masyarakat Banyuwangi dalam upaya menghubung hubungkan antara peristiwa yang terjadi dalam Legenda Sri Tanjung dan segala sesuatu yang terdapat di daerah ini, telah mencerminkan kesiapan masyarakat dalam bidang sosial budaya. Dalam hal ini berarti unsur potensi dan nilai budaya di daerah Kabupaten Banyuwangi sudah cukup tinggi pada waktu itu, sehingga unsur seni budaya dari luar yang memungkinkan untuk memperkaya khasanah budaya di daerah ini begitu mudah diterima oleh masyarakat. Di samping itu juga tidak mustahil karena terdorong oleh ambisi dan suatu maksud untuk memiliki “Mythos Dewi Sri.” Hal itu disebabkan bahwa Sri Tanjung dianggap sebagai penjilmaan Dewi Sri. Sedang Dewi Sri menurut kepercayaan, terutama masyarakat tani adalah Dewi Padi atau Dewi Kesuburan. Untuk itu juga dapat dipastikan ada maksud yang menghubungkan dengan kesuburan dan kemakmuran bumi Blambangan. Sebagaimana telah diketengahkan di muka bahwa nama Banyuwangi dalam arti simbolik filosofinya mengandung maksud bahwa daerah ini mempunyai cukup air yang baik (harum), sehingga memungkinkan sekali untuk mengolah sawah ladang dan menjadikan lahan pertanian yang subur serta menghasilkan segala rupa yang jumlahnya berlimpah ruah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup rakyat di daerah ini.

Menurut Prof. Dr. RM. Ng. Poerbotjaroko, ceritera Sri Tanjung hanya terdapat di daerah Kabupaten Banyuwangi dan sekitarnya. Pendapat Poerbotjaroko itu mungkin hanya didasarkan bahwa ceritera Sri Tanjung paling populer dan digemari oleh masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Sedang menurut pengamatan yang sebenarnya, ceritera Sri Tanjung bukanlah ceritera khas milik daerah ini sebagai karya sastra lokal, kendati dalam penelitian Dr. Poerbotjaroko di daerah Jawa Barat tidak terdapat ceritera semacam ini. Legenda Sri Tanjung merupakan ceritera nasional yang mirip dengan “Ceritera Panji” atau tidak salah jika dikatakan ceritera yang bersifat universal. Ceritera Sri Tanjung di samping sebagai karya sastra yang bersifat universal juga ada yang berbentuk karya tulis dan terdapat di mana-mana.

Dalam hal ini dapat dibuktikan dengan adanya relief relief (lukisan) tentang ceriteraSri Tanjung di berbagai tempat (daerah), antara lain: pada Candi Penataran (terdapat di teras pendopo tambahan, 1370) dekat kota Blitar (Jawa Timur), di Candi Surowono (1371) dekat kota Pare (Kediri, Jawa Timur), di Candi Jabung yang terletak di antara kota Paiton (Probolinggo dan Situbondo (Jawa Timur) serta masih ada lagi di daerah yang lain. Di samping itu juga masih terdapat “Ceritera Banterang Surati” yang dapat dikatakan hanya versinya yang berbeda, namun napasnya sama dengan ceritera Sri Tanjung.Ceritera Banterang- Surati besar kemungkinannya berasal dari daerah Bali, karena beberapa tokoh ceriteranya sebagian besar juga berasal dari pulau Dewata itu, Di daerah Kabupaten Banyuwangi sendiri Ceritera Banterang Surati tidak sepopuler Legenda Sri Tanjung. Kendati demikian tokoh ceriteranya juga diabadikan sebagai nama jalan di kota ini.

Ceritera Banterang- Surati hanya memiliki “Versi Desa” yang pada umumnya diceritakan dari mulut ke mulut. Ceritera Banterang- Surati juga ternyata memiliki lebih dari satu versi dan lukisan ceriteranya terdapat pula perbedaan, namun kurang berarti. Sebagai contoh, Ceritera Banterang – Surati buah karya M.Adityawarman dan Khid.Hidayat yang berjudul “Raden Banterang”, Asal-Usul Banyuwangi,” yang diterbitkan oleh PT. Karya Anda, Surabaya 1989 yang berbentuk Komik terdapat perbedaan, untara lain bahwa pertemuan antara Raden Banterang dan Putri Surati di dalam hutan wilayah kekuasaan kerajaan Blambangan.

Pada waktu itu Surati akan diperkosa oleh dua orang perampok yang bernama Kalahangkara dan Duratmaka. Setelah berhasil menolong Sang Putri dengan menghajar kedua perampok itu, dengan kesepakatan kedua pihak, Surati bersedia diboyong dan dipersunting oleh Raden Banterang yang selanjutnya putri Bali tersebut hidup bersama suami di istana Blambangan. Dalam buku itu juga disebutkan ketika terjadi peperangan antara kerajaan Blambangan dan Klungkung (sebelum Surati mengembara sampai ke hutan dekat Ketapang), pasukan Blambangan langsung di bawah pimpinan rajanya Prabu Menak Prakosa (ayahanda Raden banterang) bersama Patih Rogojampi. Sebelum terjadi pertempuran, raja Klungkung mengharapkan agar putranya Bagus Tantra bersama adiknya Dewi Supraba dengan pengawalan Panglima Cokorde Rai dan sejumlah prajurit Klungkung segera mengungsi demi keselamatan putra mahkota calon pengganti raja (ayahanda raja). Setelah raja Klungkung gugur ditangan Prabu Menak Prakosa di medan pertempuran, Dewi Supraba yang terpisah dengan kakaknya Bagus Tantra dan para pengawal terus mengembara tanpa tujuan dan menyamar dengan sebutan Dewi Surati, yang akhirnya bertemu dan dipersunting oleh Raden Banterang. Sedang Gusti Bagus Tantra yang menyamar sebagai seorang pengemis dalam upaya untuk menuntut balas kematian mendiang ayahanda raja Klungkung berhasil masuk ke daerah musuh dan menemui adiknya Surati yang telah menjadi isteri Pangeran Blambangan. Setelah ajakan kerja sama untuk membinasakan musuh di kerajaan Blambangan, terutama untuk membunuh Prabu Menak Prakosa dan Raden Banterang ditolak oleh adiknya Dewi Supraba yang telah menyamar sebagai Putri Surati menyebabkan Bagus Tantra sangat sakit hatinya dan pengemis palsu itu membuat fitnah dengan melaporkan kepada Raden Banterang yang sedang berburu binatang buas di dalam hutan bahwa isterinya Dewi Surati itu sebenarnya putri Klungkung yang bernama Dewi Supraba. Sedang penyamarannya sebagai Putri Surati itu sebenarnya dengan maksud untuk membinasakan musuh di kerajaan Blambangan. Saat ini Dewi Surati telah bertemu dengan kakaknya Bagus Tantra dan telah berkelompot membuat perangkap secara halus, terutama untuk membunuh raja Blambangan Prabu Menak Prakosa bersama putra Raden Banterang. Kisah selanjutnya sangat mirip dengan kisah Sri Tanjung dan Banterang- Surati tersebut di atas, sampai dengan melahirkan nama “BANYUWANGI.”

Sebagaimana telah diketengahkan di muka bahwa Ceritera Banterang- Surati jika dibanding dengan Legenda Sri Tanjung dapat dikatakan “Versinya berbeda, namun napasnya sama.” Sebagai bukti, kedua ceritera tersebut tokoh wanitanya yang masing-masing Dewi Sri Tanjung dan Putri Surati bernasib sama. Keduanya mati dibunuh oleh suami masing-masing akibat fitnahan. Baik Sri Tanjung maupun Surati sebenarnya masing-masing sebagai ibu rumah tangga yang baik dan setia serta berbakti terhadap suami. Itulah sebabnya baik Sri Tanjung maupun Surati dikiaskan masing-masing memiliki darah yang berbau harum. Sedang dari darah Sri Tanjung dan Surati yang berbau harum itu, akhirnya melahirkan nama Banyuwangi. Nama Banyuwangipun juga berasal dari teriakan histeris dari suami Sri Tanjung (Raden Sidopekso) dan suami Surati (Raden Banterang).

Baik Legenda Sri Tanjung maupun Ceritera Banterang- Surati sebagai nara sumber asal mula nama Banyuwangi yang telah diuraikan secara jelas, keduanya bukan merupakan fakta sejarah sepenuhnya.Itulah sebabnya sangat perlu diadakan pengkajian atau paling pengklasifikasian lebih dahulu, agar dapat menentukan kebenarannya secara obyektif dengan membanding-bandingkan terhadap beberapa nara sumber yang lain. Ceritera Banterang – Surati kebanyakan hanya berversi desa yang diceriterakan dari mulut ke mulut, sehingga dapat dikatakan semacam dongeng saja. Sedang karya sastra berbentuk.dongeng dapat dipastikan bahwa di dalam ceriteranya banyak sekali terdapat peristiwa atau hal-hal yang jauh di luar kenyataan atau tidak rasional, sehingga nama Banyuwangi yang bernara sumber dari Ceritera Banterang- Surati dinilai masih sangat jauh dari kebenaran sejarahnya. Sedang Legenda Sri Tanjung yang telah diuraikan di muka secara jelas juga masih merupakan karya sastra murni. Sebagai karya sastra, Legenda Sri Tanjung lukisan ceriteranya dapat dipastikan terikat oleh konvensi sastra Jawa yang mengandung dua unsur (segi), yakni unsur rekaan (model sastra) dan unsur kenyataan (sebagai bahan ceritera). Lukisan ceritera dalam Legenda Sri Tanjung di muka jika disimak secara seksama jelas lebih mengutamakan model sastra dari pada peristiwa sejarahnya. Sedang apabila unsur cipta sastra yang merupakan rekaan ceritanya lebih diutamakan dan model sastra lebih dominan dari pada kenyataan (peristiwa sejarah sebagai bahan ceritera), pada umumnya terjadi pemythosan terhadap beberapa tokoh (pelaku utama) dalam ceriteranya.

Tegasnya, dalam lukisan ceritera Sri Tanjung itu banyak sekali mengandung unsur rekaan (model sastra). Legenda Sri Tanjung apabila ditinjau dari segi historis hanya merupakan mythos belaka. Itulah sebabnya nama Banyuwangi yang berasal atau bernara sumber dari Legenda Sri Tanjung juga dinilai masih sulit untuk dipertanggung jawabkan kebenarannya (tidak pas dengan peristiwa sejarahnya). Kendati demikian apabila kita mombaca dan mempelajari baik Legenda Sri Tanjung maupun Ceritera Banterang – Surati, di samping sebagai pelipur lara, yang penting juga dapat mengambil hikmahnya, yakni sifat dan watak terpuji tokoh legendaris wanitanya baik Dewi Sri Tanjung maupun Putri Surati baik sekali dan patut dijadikan suri teladan para ibu rumah tangga, khususnya para remaja putri di seluruh tanah air.

~Sumber@buku Koleksi BTD ‘Menelusuri dan Mencari Hari Jadi Kota Banyuwangi’ Sri Adi Oetomo 1993
~Ilustrasi Photo@Peragaan Busana Sri Tanung~At Indonesia Fashion Week 2017 di Jakarta ~ Langgeng Adinata Prayogo

Oleh : MunawirBanjoewangie Tempo Doeloe

Categorised in:

No comment for Legenda Dewi Sri Tanjung & Asal Mula Nama Banyuwangi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*