Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » LAROS » LCT Putri Sritanjung

LCT Putri Sritanjung

(552 Views) July 1, 2016 7:37 pm | Published by | No comment
LCT Putri Sritanjung

Eko Budi Setianto

Gonjang-ganjing kasus pengadaan 2 buah kapal penyeberangan jenis Landing Craft Tank (LCT) sekitar tahun 2003 silam, masih terbayang jelas dibenak sebagian besar warga Banyuwangi. Selain memunculkan rasa bangga bagi warga karena merupakan armada penyeberangan pertama yang diklaim sebagai milik masyarakat Banyuwangi, pengadaan Kapal LCT bernama ; LCT Putri Sritanjung dan LCT Putri Sritanjung I yang digagas dan diprakarsai Bupati Banyuwangi (waktu itu), Ir H Samsul Hadi, juga menggoreskan kejadian-kejadian tragis yang memakan banyak korban.

Betapa tidak, proses pengadaan kapal yang dipesan langsung dari perusahaan galangan kapal CV Muji Rahayu di Samarinda, Kalimantan Timur, itu telah menyeret dana menjerumuskan sejumlah pejabat teras Pemkab dan DPRD Banyuwangi ke dalam penjara. Beberapa tokoh eksekutif dan legislative yang terseret kasus pengadaan kapal asset Pemkab Banyuwangi itu, antara lain; Ir H Samsul Hadi (Bupati), H Masduki Soe’oed (Sekda), Eko Sukartono dan Yadi Yatok Pramono (wakil Ketua DPRD). Mereka harus mendekam dalam penjara karena didakwa melakukan mark-up atas harga pembelian/pengadaan 2 kapal tersebut.

Karena itu, mulai 12 tahun silam sejak pengadaannya, keberadaan 2 kapal LCT Putri Sritanjung sudah merupakan ikon dan kebanggan bagi masyarakat Banyuwangi. Masyarakat, barangkali, tidak banyak yang mempermasalahkan sudah berapa miliar rupiah yang disetor ke kas daerah, atau apa dan bagaimana kondisi manajemen PT Pelayaran Banyuwangi Sejati (PBS) yang selama ini dipercaya sebagai pengelola. Secara umum, masyarakat hanya ingin agar kapal ‘kebanggaan’ mereka itu tetap ada dan dijaga, entah bagaimana caranya.

Maka tidaklah mengherankan bila banyak kalangan yang emosi dan marah, ketika tiba-tiba

merebak kabar buruk tentang kondisi terakhir kapal, yang mengabarkan bahwa LCT Putri Sritanjung I karam dan ‘Njungkel’ kedalam laut. Tragisnya, ketika berusaha diangkat kembali  kepermukaan, badan kapal retak dan nyaris patah menjadi dua.

Silang-sengkarut pendapat dan statemen tentang kapal tersebut, pun mulai ramai berseliweran di permukaan. Semua pihak mengklaim pendapatnya benar. Ada juga yang mengaku apa yang dilakukannya sudah sesuai prosedur. Lalu, siapa yang harus dipersalahkan tentang kondisi kapal kebanggaan masyarakat Banyuwangi itu?

Terbentuknya Panitia Khusus (Pansus) DPRD tentang penyelamatan Kapal LCT Putri Sritanjung dan PT PBS, menjadi harapan bagi sebagian warga, yang masih percaya terhadap kinerja DPRD. Namun ada sebagian lagi yang merasa sinis terhadap kinerja Pansus, yang dikhawatirkan akan mudah diintervensi oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan.

Yang jelas, ‘Karamnya LCT Putri Sritanjung’ jelas-jelas menjadi pertanda betapa berat dan saratnya beban politik yang harus ditanggung oleh 2 Kapal tersebut. Mulai dari kepentingan ekonomi, sosial dan politik, semua tumplek-blek diatas badan tua kapal LCT Putri Sritanjung, yang, barangkali, itu pula yang membuatnya terpaksa harus karam dan njungkel.

(penulis adalah wartawan Harian Memorandum, dan penulis buku; Politik Santet)

Categorised in:

No comment for LCT Putri Sritanjung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*