February 17, 2018

Jadi Maskot, Kopi Banyuwangi Tembus Eropa

Banyuwangi – Banyuwangi terkenal dengan kota penghasil kopi. Selain memiliki lahan kopi yang begitu luas, cita rasa kopi Banyuwangi juga dikenal memiliki karakter rasa yang kuat dan khas hingga banyak dikenal di mancanegara.

Tidak salah jika pemerintah kabupaten Banyuwangi melalui dinas pertanian, perkebunan dan kehutanan mengusung kopi sebagai maskot kota Banyuwangi.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun oleh beritajatim.com melalui Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Kehutanan Banyuwangi, lahan kopi di Banyuwangi saat ini mencapai  10.833 ha (hektar), 5.388 ha dimiliki oleh rakyat dan 5.445 ha dimiliki oleh pihak perkebunan.

Adapun seluruh lahan kopi tersebut tersebar di delapan kecamatan di Banyuwangi yaitu kecamatan Songgon, Wongsorejo, Glagah, Licin, Kalipuro, Kalibaru, Pesanggaran, dan kecamatan Glenmore.

Khoiri, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian, Kerkebunan dan Kehutanan Kabupaten Banyuwangi menyampaikan, luas lahan kopi yang sudah panen di Banyuwangi mencapai 8.298 ha dengan provitas 9, 64 kwintal per hektare.

Ada dua jenis kopi di Banyuwangi, yaitu Robusta dan Arabica, dengan perbandingan luas lahan 90 dan 10 persen, total produksinya mencapai 7.992 ton per tahun.

“Data menunjukkan Banyuwangi menjadi salah satu kabupaten pensuplay besar kopi nasional. Karena kopi Arabica banyak diminati, kami menambahnya, dan sudah kami tanam di Wongsorejo di lahan seluas 100 ha,” jelasnya kepada beritajatim.com, Selasa (27/01/15).

Khoiri menjelaskan, kopi sendiri saat ini menjadi ikonnya Banyuwangi, karena tingkat konsumsi kopi di Banyuwangi dan sekitarya cukup tinggi. Selain itu kopi Banyuwangi memiliki cita rasa yang khas dan unik, yang membedakan dengan kopi lainnya sehingga, banyak negara-negara dingin Eropa dan Asia seperti Belanda, Perancis dan Jepang meminta kopi Banyuwangi diekspor kesana.

“Kopi Banyuwangi memiliki cita rasa yang kuat dan barkarakter yang mungkin tidak dimiliki kopi lainnya. Salah satu faktornya karena kopi Banyuwangi sebagian besar ditanam di lereng Gunung Raung yang tanahnya sangat bagus, selain itu juga para petani menerapkan strategi perawatan yang benar ” jelasnya

Khoiri menambahkan untuk menjaga kualitas kopi Banyuwangi sendiri, Dinas Perkebunan Banyuwangi menempuh berbagai program, salah satunya Sekolah Lapangan (SL), yang diberikan kepada para petani kopi di Banyuwangi setiap 2 minggu sekali, yaitu tentang cara menanam, merawat, panen, hingga pasca panen. Program ini dilakukan sejak 2002.

Menurutnya khusus untuk perawatan, para petani diharuskan menggunakan pupuk organik dan membuat lubang sendiri di samping pohon untuk menempatkan daun-daun kopi yang gugur dan langsung bisa dijadikan humus, dan tunas-tunas yang muncul setelah panen harus dipangkas

Sementara itu pemerintah kabupaten Banyuwangi sendiri terus berupaya meningkatkan citra Banyuwangi sebagai kota kopi, salah satunya melalui event-event besar yang di helat melaui event Banyuwangi festival (B-fest), seperti ngopi sepuluh ewu (minum kopi sepuluh ribu cangkir gratis) yang diadakan sejak 2 tahun terakhir di desa adat, Kemiren, Banyuwangi dan kunjungan tamu dari dalam negeri atau pun luar negeri untuk ikut ngopi bareng, seperti saat kunjungan duta besar Amerika Serikat untuk Indonesia, yang datang ke Banyuwangi 2 Bulan yang lalu. (Rif)

(beritajatim.com)

banner 468x60