February 20, 2018

Hutan Mangrove Teluk Pangpang

Masuk 17 Lokasi Ekosistem Esensial di Indonesia SIANG itu kami terpaksa menunggu be berapa saat di kantor Resort Tanjung Pasir di Desa Wringinputih. Rencana perjalanan menuju Teluk Pangpang naik perahu sedikit tertunda karena air laut dalam kondisi kondo. Ketinggian air laut dalam posisi tanggung. Tak terlalu dangkal, tapi belum bisa dilewati perahu.Cuaca siang itu sangat cerah, rimbun tanaman bakau di seberang muara terpantul jelas di permukaan sungai. Setelah matahari agak condong ke barat, kami segera menyusuri muara menuju Teluk Pangpang.

 hutan mangrov pangpangDua perahu menjadi alat transportasi kami untuk melihat hijaunya hutan bakau di kawasan tenggara Banyuwangi itu. Jawa Pos Radar Banyuwangi yang berkesempatan mengikuti ekspedisi kali ini akhirnya bisa menyaksikan pesona Banyuwangi yang selama ini masih kurang populer itu. Perjalanan menuju perairan Teluk Pangpang seperti perjalanan melewati labirin-labirin bakau. Dengan lebar sungai yang tidak terlalu luas, pandangan kita akan dibatasi dinding bakau yang menjulang tinggi nan-lebat. Potensi yang terdapat di kawasan Teluk Pangpang keragaman hayati yang sangat kaya.

Setidaknya ada 12 jenis mangrove yang hidup di kawasan tersebut. kedua belas jenis itu adalah Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Bruguiera gymnorhyza, Avicennia marina, Avicennia lanata, Cordia bantamensis, Ceriops tagal, Ceriops decandara, Xylocarpus granatum, Heritiera littoralis, Sonneratia alba, dan Sonneratia caseolaris. Selain itu, kawasan tersebut juga merupakan habitat satwa liar terutama jenis burung air (water birds), terdapat 30 jenis burung 10 di antaranya merupakan jenis yang dilindungi undang-undang.

Yaitu Bangau Tontong (Leptoptilos Javanicus), Pecuk Ular (Anhinga melanogaster) dan Elang Laut Perut Putih (Haliaeetus leucogaster). Selain aves, satwa lain yang hidup di sana adalah mamalia, seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan jenis dilindungi undang-undang, yaitu kijang (Muntiacus muntjak). Kementerian Kehutanan telah menetapkan mangrove di kawasan Teluk Pangpang satu di antara 17 lokasi ekosistem esensial di Indonesia. Selain satwa yang hidup di permukaan air, Teluk Pangpang juga menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai binatang yang hidup di dalam air.

Itu terlihat saat kami melakukan perjalanan menuju Teluk Pangpang. Dalam perjalanan menuju Taman Kili-Kili (lokasi tambak yang sudah tidak difungsikan lagi), kami dikagetkan dengan ratusan ikan yang manuver di kiri-kanan perahu. Para penumpang perahu pun histeris. Suasana semakin ramai saat beberapa ikan yang berlompatan itu terperangkap dan masuk ke dalam perahu. Menurut salah seorang pemerhati kawasan mangrove di Banyuwangi, Ervina Wahyu S.,Teluk Pangpang merupakan kawasan yang potensial.

Selain menyimpan kekhasan dan keragaman habitat dalam satu ekosistem, uk Pangpang juga menyimpan segudang potensi. Potensi yang bisa dikembangkan di Teluk Pangpang adalah kawasan wisata. Dibandingkan Kawasan Bedul di Banyuwangi Selatan, Teluk Pangpang lebih menjanjikan dikembangkan menjadi lokasi wisata. Sesuai namanya, ekosistem esensial, masyarakat bisa langsung terlibat dalam pengelolaan kawasan itu. Adanya sebagian kawasan yang bukan menjadi wewenang Balai Konservasi Taman Nasional maupun Perhutani merupakan kelebihan yang dimiliki Teluk Pangpang.

“Pemberdayaan masyarakat lebih mudah,” ujar Ervina. Oleh karena itu, dia berharap Pemkab Banyuwangi tertarik dengan potensi yang dimiliki kawasan Teluk Pangpang itu. Selama ini kendala pengembangan kawasan tersebut adalah adanya ego sektoral beberapa pihak terkait. “Kami berharap bupati tertarik dengan kawasan ini,” harapnya. Ervina mengatakan, saat ini beberapa NGO (non government organization) dari luar negeri sudah menaruh perhatian terhadap Teluk Pangpang. Hal itu membuktikan Teluk Pangpang memang menyimpan potensi yang bisa dikembangkan.

“RASCAR dari Korea itu memilih Teluk Pangpang sebagai lokasi riset,” ungkapnya. Beberapa potensi wisata bisa dikembangkan di tempat tersebut. Tidak melulu tentang kelautan. Pernyataan itu didasarkan adanya beberapa situs peninggalan zaman dulu, seperti makam gandrung, sisa Zaman Jepang, dan beberapa situs di Semenanjung Sembulungan. Masyarakat di Desa Wringin Putih sudah memiliki kesadaran terkait potensi wisata tersebut. “Ada banyak situs, masyarakatnya juga sudah tanggap,” kata Ervina.

Selain bisa memajukan sektor pariwisata, pengembangan kawasan Teluk Pangpang diharapkan bisa memajukan dan melestarikan mangrove di kawasan itu. Sementara itu, Dirman, 43, warga setempat yang juga ketua Model Desa Konservasi (MDK), berharap Teluk Pangpang bisa segera direalisasikan menjadi kawasan wisata. Masyarakat sudah tidak sabar menunggu realisasi tersebut. “Kita sudah diajak bermimpi, tinggal realisasinya. Itu harapannya,” tandas Dirman. (radar)

banner 468x60