February 18, 2018

Film Karya Lare Banyuwangi Ini Juara AFI 2015

Film Karya Banyuwangi

Untuk kedua kalinya, film dokumenter berjudul Tumiran karya sutradara muda asal Banyuwangi, Vicky Hendri Kurniawan, menjadi jawara. Film Tumiran dinyatakan sebagai karya terbaik dalam Apresiasi Film Indonesia (AFI) 2015. Acara itu diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan di Museum Benteng Vredeburg di Yogyakarta, Minggu (25/10/2015).

Vicky berhasil menjadi pemenang AFI 2015 kategori setelah film dokumenter (umum) Tumiran karyanya menyingkirkan nominasi sebelumnya, yaitu film berjudul Nyalon dan film The Caal of the Creater (Jalan Pulang). Sebelumnya, film Tumiran juga menjadi jawara dalam ajang Denpasar Film Festival 2014 lalu.

“Alhamdulillah seneng bisa menjadi juara lagi,” tutur Vicky saat berbincang dengan KabarBanyuwangi.com, Senin (26/10/2015).

Vicky mengaku, ia memang sengaja mengirimkan film Tumiran untuk ikut lomba ke AFI 2015. Hal itu sebagai bentuk apresiasinya pada sosok Tumiran yang menjadi tokoh dalam film dokumenternya. Lantas siapa sosok Tumiran yang sebenarnya.

Menurut Vicky, Tumiran semenjak hidup di perantauan nyaris tidak pernah pulang kampung meski saat Hari raya Idul Fitri tiba. Dan justru Tumiran hanya pulang ketika tradisi keboan di desanya digelar. Bahkan, menurut Vicky, tokoh Tumiran rela berhutang agar bisa ikut dalam ritual tahunan tersebut.

“Tumiran itu seorang lelaki yang memiliki garis keturunan lurus dengan pelaku awal ritual Keboan. Tumiran sendiri telah menjadi pelaku ritual Keboan sejak ia masih remaja pada 1992,“ tuturnya,

Namun, lanjut Vicky, Tumiran telah merantau ke Lombok. Disana ia menyambung hidup sebagai seorang nelayan. Penghasilan yang tidak menentu membuat kehidupan ekonomi Tumiran menjadi penuh masalah. Namun Tumiran yang kini berusia 63 tahun itu, selalu berupaya sekuat tenaga untuk mengatasi persoalan keuangan apabila ingin pulang kampung untuk mengikuti dan menjadi pelaku ritual Keboan.

“Malah pernah dia itu balik ke Lombok hanya dengan menggunakan perahu sampan yang ditempuhnya selama dua hari dua malam” imbuh Vicky, yang juga mahasiswa perguruan tinggi di Yogyakarta tersebut.

Masih kata Vicky, mungkin bagi warga melihat pelaku ritual Keboan saat kesurupan hal yang biasa dan sepela. Tapi, dibalik itu semua ada cerita yang sangat luar biasa. Vicky berharap, film Tumiran bisa menjadi cermin tentang pentingnya pengorbanan.

” Saya berharap, film ini bisa menjadi cermin atau paling tidak, bisa menghargai sebuah budaya dari pengorbanan dalam ritual tahunan ini; tandasnya. (WIDIE NUR MAHMUDY)/kabarbanyuwangi.com

banner 468x60