February 23, 2018

Festival Kuwung Hadirkan Pelangi Budaya Banyuwangi

Ditutup 243 Lampion Terbang

BANYUWANGI –  Sebagaimana makna Kuwung yang berarti pelangi,Festival Kuwung 2014 benar-benar menjadikan malam hari di Banyuwangi penuh warna. Pawai mobil yangmenampilkan miniatur budaya daerah bertaburan lampu hias warna warni. Seribu pendukung acara pun tampil dalam balutan kostum yang atraktif. Suasana semakin meriah dengan ribuan masyarakat yang menyaksikan pertunjukkan parade budaya paling tua Bumi Blambangan itu di sepanjang jalan protokol.

Festival Kuwung kali ini benar-benar menghadirkan suasana sekaligus pengalaman baru bagi masyarakat Banyuwangi. Even budaya tahunan tertua yang biasanya digelar siang hari ini, kini disuguhkan malam hari. “Festival ini akan menjadi night carnaval pertama di Banyuwangi. Jika sukses akan kita teruskan di tahun mendatang,” kata Bupati Abdullah AzwarAnas saat membuka Festival Kuwung, Sabtu (13/12).

Festival Kuwung adalah etalase kebudayaan dan seni asli Banyuwangi. Inilah yang membedakannya dengan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) yang telah digelar sebelumnya. Festival ini dihadirkan untuk menjadi panggung eksistensi seni dan budaya asli Banyuwangi yang beragam untuk tetap lestari.

“Kami terus membangun daerah, memajukan perekonomian, menambah infrastruktur, dan mengembangkan pariwisata. Seiring itu budaya daerah juga akan terus mendapatkan ruang yang seluas-luasnya , untuk tampil dan berkembang, menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Para pelajar juga selalu kita libatkan di kegiatan ini agar penerus seni dan budaya daerah tumbuh subur dari generasi ke generasi.” ujar Anas.

Pada tahun 2014 ini, Festival Kuwung bertemakan “Gumelare Cinde Sutra” atau hamparan tikar sutra Banyuwangi. Tema ini menceritakan kisah orang Banyuwangi mulai masa kanak-kanak, remaja, pernikahan hingga berumah tangga. Setiap fragmen dibawakan dalam bentuk teatrikal oleh para penari yang diiringi oleh para pemain musik tradisional.

Fragmen berjudul Sembur Uthik-uthik menceritakan kisah masa anak-anak, berlanjut pada sub tema Kembang Kanthil menceritakan kisah remaja. Kemudian berlanjut Wes kadung Ngelading Geni mengisahkan percintaan dua insan yang beranjak dewasa, lalu Kopat Luwar prosesi pernikahan dan Kembang Kuro kisah berumah tangga.

Hampir semua seni dan budaya Banyuwangi ditampilkan dalam festival Kuwung ini. Mulai tari  jaran-jaranan yang dibawakan oleh anak-anak, prosesi sunatan, Barong Ider Bumi, tari Jaran Goyang, seni hadrah Kuntulan, sampai Barongsai mengisi masing-masing fragmen di even budaya ini. Tradisi budaya  Kawin Colong dan upacara Kemanten Using juga ditampilkan dengan sangat luar biasa membuat siapapun yang menyaksikan berdecak kagum.

Festival ini juga semakin meriah dengan kehadiran empat kabupaten sahabat yakni Blora, Jembrana, Kediri dan Probolinggo Kota yang menampilkan kebudayaan daerahnya masing-masing. Festival Kuwung ditutup dengan 243 lampion terbang yang menghiasi langit Banyuwangi. Festival ini juga dimeriahkan kehadiran  artis ibukota Feby Febiola. (Humas & Protokol)

banner 468x60