February 13, 2018

Dulur Isun : Khoiri

Idealisme Vs Pasar

Banyuwangi, Memorandum – Produser merasa membutuhkan pengarang atau pencipta. Dan hal yang sama juga dirasakan oleh para pencipta, karena lagu-lagu ciptaannya ingin beredar dan didengar masyarakat penggemarnya. Namun demikian, hubungan relasi antar seniman dan produser, kebanyakan, selalu berpusar antara logika pasar dan idealisme sebuah karya komposisi. Karena itu, persaingan antar pencipta lagu pun terjadi. Bahkan, tidak jarang para pencipta yang kemudian ‘abai’ terhadap pesan moral yang akan disampaikan, dan lebih mengedepankan kepentingan pasar.

Begitulah yang diungkap oleh Khoiri, musisi dan pencipta lagu Banyuwangen yang tinggal di Dusun Kedungringin, Desa Temurejo, Kecamatan Bangorejo, seputar industry rekaman lagu-lagu daerah saat ini. “Bagi saya, idealisme itu adalah bagaimana pesan-pesan moral dan sosial yang tertuang dalam syair lagu itu bisa sampai kepada masyarakat. Dan untuk mempertahankan sikap yang demikian ini, biasanya posisi kita menjadi lemah dihadapan prosuder,” ungkapnya.

Menurut pencapta lagu ‘Kepokso’ ini, untuk mengikat pengarang lagu, prosuder tidak segan memberi barang-barang berharga. Akibatnya, sebuah karya lagu tidak memiliki harga tawar. (swa/bud)

Sumber | skhmemorandum.com

Koran Harian Memorandum 2016

banner 468x60