February 17, 2018

Dulur Isun : Hasnan Singodimayan

Nara Sumber Budaya Using

hasnan singodimayan

Hasnan Singodimayan

Banyuwangi, Memorandum – Tidak banyak tokoh budaya yang dapat dijadikan sebagai nara-sumber, baik untuk kepentingan penelitian maupun pengungkapan sejarah masa lalu Banyuwangi sendiri. Satu dari sedikit tokoh tersebut adalah Hasnan Singodimayan, yang lebih suka disebut sebagai “penulis” dari pada “budayawan”.

Bagi sebagian kalangan penulis dan peneliti kebudayaan, pensiunan Pegawai Negeri Sipil yang mengakhiri tugasnya pada tahun 1991 di Dinas Perikanan ini merupakan salah satu referensi penting tentang kebudayaan masyarakat Using Banyuwangi. Sebagai sumber dan referensi budaya, kemampuan dan wawasannya terbilang cukup luas dan dalam. Bahkan, sebuah Harian nasional dalam sebuah tulisan tentang dirinya, menyebutnya sebagai; “Sumur Tanpa Dasar” Budaya Using. Kedalaman pengetahuan Hasnan terhadap seni-budaya tanah leluhurnya itu sudah mulai tergali sejak masih usia muda, yang dituangkannya dalam berbagai tulisan.

Hasnan mulai aktif sebagai menulis selepas mondok di Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo tahun 1955. Kemudian, sekitar tahun 1960-an ia bergabung sebagai jurnalis di Koran Terompet Masyarakat, Surabaya. Namun akhirnya dia dipecat dari Koran tersebut karena bergabung dalam gerakan Manikebu (Manifesto Kebudayaan), yang kala itu dianggap sebagai gerakan kontra pemerintah. Namun, kejadian itu tak membuatnya berhenti menulis. Karya-karyanya berupa esai dan cerbung dia kirim ke pelbagai majalah dan koran. Dan seabreg penghargaan pun mulai berhasil diraihnya. Cerpennya berjudul; “Lailatul Qadr” menjadi juara tiga penulisan cerpen yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Surabaya tahun 1973. Disusul kemudian, puisinya berhasil meraih juara II penulisan puisi yang digelar oleh Radio BBC London tahun 1980.

Penulis kelahiran Banyuwangi, 17 Oktober 1931 ini terbilang cukup eksis dibidangnya. Selain juga pernah menulis naskah sandiwara radio berbahasa Using, sedikitnya ada tiga buah novel yang telah diselesaikannya dalam beberapa tahun terakhir, yaitu; ‘Badai Selat Bali’, ‘Kerudung Santet Gandrung’ dan ‘Suluk Mu’tazillah’. Terakhir, sebuah novel lagi telah dirampungkannya. Menurutnya, novel berjudul ‘Bala Abangan’ itu akan segera publish dalam waktu dekat ini. Nggih, Wyak …!! (bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

banner 468x60