February 23, 2018

Dulur Isun : Basir Noerdian

Si Penggubah Lagu Banyuwangen

Basir Noerdian

Basir Noerdian

Banyuwangi, Memorandum – Bagi penikmat lagu daerah Banyuwangen, nama Basir Noerdian – yang biasa disingkat Bs Noerdian – tentu sudah tidak asing lagi. Sejak berkiprah sebagai pencipta lagu daerah mulai tahun 1965 lampau, hingga saat ini sudah ratusan lagu yang digubahnya. Diantara ratusan lagu ciptaannya, tidak sedikit yang kemudian menjadi legendaris, seperti; Kembang Pethetan, Rujak Singgul, Uyek-uyek Ranti, Untring-untring, Ulan Andhung-andhung dan Kali Elo. Selain itu, hasil aransemen-nya yang cukup fenomenal yaitu lagu “Umbul-umbul Blambangan”.

Beda dengan arranger (pencipta lagu) pada umumnya, proses kreatif yang dilakukan Basir selalu berawal dari sebuah syair. Dari syair-syair yang diperolehnya melalui Koran, majalah, atau yang disodorkan langsung oleh penulisnya, Basir pun mulai rengeng-rengeng untuk mencari dan menata notasinya hingga terbentuk menjadi sebuah lagu. Maka dari itu, pada setiap lagu yang diciptakannya juga tercantum nama orang lain selain namanya sendiri. “Saya ini spesialis penggubah lagu. Jadi sebelum saya membuat lagu, saya harus membaca syairnya dulu. Setelah terlebih dulu saya pelajari dan memahami maksudnya, baru saya carikan irama dan nada-nada yang cocok untuk lagu itu,” tutur Pria kelahiran 5 Januari 1934 yang sampai sekarang masih aktif mencipta lagu ini.

Beberapa nama penyair Banyuwangi yang karyanya sering dipakai sebagai dasar mencipta lagu oleh Basir antara lain; Slamet Utomo (Alm), HAK Armaya, Fatrah Abal (Alm) dan H Andang Chatip Yusuf. Dari ratusan karya sastra yang telah digubahnya menjadi syair lagu, syair-syair karya Andang adalah yang paling banyak memberinya inspirasi. “Syair-syair yang ditulis Andang itu sangat kental dengan idiom-idiom Using. Itu sangat menarik. Dan saya banyak mendapat inspirasi dari syair-syairnya itu,” ungkap Basir, yang mengaku sepantaran dengan Muhammad Arif (Alm), sang pencipta lagu “Genjer-genjer” yang fenomenal itu.

Disinggung tentang generasi pencipta lagu Banyuwangi sekarang ini, Basir mengaku prihatin. “Lagu-lagu daerah yang diciptakan oleh generasi sekarang ini kebanyakan sudah tidak lagi berpijak pada budaya daerahnya. Tetapi ada juga beberapa karya mereka yang sangat saya suka, seperti lagu; Jaran Ucul,” kata Basir. (bud)

Sumber | Koran Harian Memorandum

Koran Harian Memorandum 2016

banner 468x60