Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » BANYUWANGI FESTIVAL » Cerita dibalik Suksesnya Banyuwangi Ethno Carnival “Majestic Ijen” 2017

Cerita dibalik Suksesnya Banyuwangi Ethno Carnival “Majestic Ijen” 2017

(211 Views) November 13, 2017 9:11 am | Published by | No comment
Banyuwangi – Telah usai pagelaran BEC (Banyuwangi Ethno Carnival) pada hari Sabtu (11/11/2017) lalu digelar yang mengangkat tema “Masjestic Ijen”. BEC merupakan salah satu event tahunan yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival.
Selama ini BEC (Banyuwangi Ethno Carnival) memasuki tahun ke tujuh yang setiap tahunnya berhasil digelar oleh Banyuwangi, dari tahun ke tahun tema yang digunakan selalu berbeda beda, sejak dimulainya BEC di Banyuwangi digelar pada tahun 2011, BEC membawakan beberapa tema yang berhasil mengangkat kearifan lokal yang di miliki oleh Banyuwangi, dimulai dari BEC 1 mengangkat tema Gandrung, Damarwulan, Kuntulan, BECĀ  2 re-Barong, BEC 3 Kebo – keboan, BEC 4 The Mistic Dance Of Seblang, BEC 5 Kemantin Using, BEC 6 The Legend of Sritanjung – Sidopekso, dan BEC 7 ini mengangkat dengan tema Majestic of Ijen.
Dibalik event ini tergolong sukses dalam menyelenggarakan BEC yang kali ketujuh ini, dan semua itu mempunyai kesan tersediri bagi para seniman musik yang mengiringi para peserta BEC pada acara hari itu, kesuksesan itu kiranya patut untuk diapresiasi.
Semua itu dirasakan oleh para seniman musik yang membidangi sebagai seksi tarik suara (penyanyi) yang ikut andil dalam pagelaran Banyuwangi Ethno Carnival itu, beliau adalah Pieter Yulivianou dan Fenty Corry Aquino.
Beliau tergolong orang yang beruntung menjadi salah satu bagian yang dapat mengisi acara itu dengan kemampuan tarik suara yang dimilikinya, tidak mudah untuk menjadi seseorang sebagai pengisi acara di BEC pada tahun ke tahun, mereka berusaha sekuat tenaga untuk menampilkan acara supaya sukses, semua itu sudah dipersiapkan oleh ke dua orang tersebut yang akrab dipanggil Pieter dan Neno itu.
Tentunyanya sebelum hari H pelaksanaan BEC jauh jauh hari telah dipersiapkannya mulai dari seleksi pemilihan para musisi/panjak, mengaransement music, memilih lagu sekaligus latihan dan selanjutnya recording musik tersebut.
Selama tiga bulan lamanya dirinya menekuni agar sukses dalam event BEC itu, berkat kerja keras dari seniman music yang diaransement langsung oleh Nanang Ariyanto akhirnya membuahkan beberapa lagu utuk mengiringi para peserta BEC, beberapa lagu tersebuat yakni kategori lagu daerah antara lain; Lagu petek-petek suku, uki uki, Banyuwangi, dan Banyuwangi, untuk kategori umum antara lain; jamrud katulistiwa, lestari alamku dan burung camar, dan untuk kategore lagu barat antara lain; sky full of star. Dari semua musik yang telah diaransement ulang itu nantinya akan dikemas dengan genre etnik modern yang tak lepas dari ciri khas dari musik Banyuwangi yaitu kendang kempul.
Saat ditemui oleh beberapa awak media, Pieter dan Neno mengaku bangga dan tidak menyangka dapat mengisi acara BEC dari tahun ketahun membuat dirinya mempunyai pengalaman menarik yang berbeda beda dalam komposisi musik dalam memperpadukan tema BEC yang selalu berubah setiap tahunnya dengan mengangkat kearifan lokal yang dimiliki Banyuwangi. Ungap Pieter yang sekaligus adalah salah satu Karyawan Bank itu
Kesulitan bermusik dan menyanyikan lagu dirasakan Pieter saat dirinya masih baru baru saja ditunjuk untuk mengisi acara BEC pada tahun 2012 lalu, seiring berjalannya waktu pada BEC yang ke tujuh ini dirasakan sangat enjoy enjoy saja namun semua itu berkat para musisi musisi yang mengiringinya.
Saat mereka mengisi acara BEC Hal yang membuat dirinya menarik yaitu saat pagelaran BEC yang ke enam dengan membawakan tema “The Legend Of Sritanjung – Sidopekso”, dari semua panitia, peserta, dan musisi melakukan proses ritual di sumur sritanjung yang berada di dalam wilayah pendopo saba swagata blambangan agar memperoleh keselamatan dalam mensukseskan BEC ke enam itu. Tambah Pieter
Diketahui Pieter dan Neno riwayatnya pernah bertemu sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar dan Hobinya sama sama bernyanyi.
Sejak kecil Neno bahkan sudah memiliki beberapa album lagu diantaranya lagu bang cilang cilung, janur melengkung, Boso using. Yang membuat lebih bangga ialah Neno yang kesehariannya sebagai ibu rumah tangga itu didunia tarik suara dirinya sudah di restui oleh sang suami, hingga dirinya mengisi dari panggung ke panggung.
Berkat kepopulerannya di dunia musik, Pieter dan Neno sudah bernyanyi berduet dengan artis Banyuwangi seperti Vita Alvia, Suliyana, Reny Farida, Catur Arum, Lilis Darawangi, dan artis lokal lainnya.
Pieter dan Neno berharap pada para masyarakat Banyuwangi, agar semuanya tidak meninggalkan kecintaan mereka terhadap musik kendang kempul Banyuwangi yang hari hari ini mulai terpendam dimakan zaman dan kalah dengan musik dari luar Banyuwangi. Ungkap mereka.
Reporter : Rochman
Categorised in: ,

No comment for Cerita dibalik Suksesnya Banyuwangi Ethno Carnival “Majestic Ijen” 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*