Banyuwangi The Sunrise Of Java || Kota Festival || Jelajahi Banyuwangi, Anda Pasti Ingin Kembali
Menu Click to open Menus
Home » PARIWISATA » Banyuwangi di Mata Jurnalis Jakarta, Hasiholan Siahaan XIV

Banyuwangi di Mata Jurnalis Jakarta, Hasiholan Siahaan XIV

(355 Views) November 19, 2017 2:04 pm | Published by | No comment

“Kota Mistis Menyimpan Nuansa Alam Sangat Luar Biasa”

Hasiholan Siahaan XIV di Pemandangan Hutan Alaspurwo

BANYUWANGI – Dibalik keindahan alam serta nilai adat istiadat dan budaya lokal dengan sejuta prestasi yang dimiliki Banyuwangi, ternyata Banyuwangi adalah kota kecil yang masih harus berbenah disana sini. Itulah ungkapan yang dilontarkan Hasiholan Siahaan XIV salah satu jurnalis Koran Sindo menetap di Kota Depok, Jawa Barat.

Sebelum menginjakkan kakinya di Bumi Blambangan, terlintas didibenak Olan sapaan akrab Hasiholan Siahaan XIV, Banyuwangi adalah kota yang dikenal dengan kota mistis namun menyimpan nuansa alam yang sangat luar biasa dengan pembangunan infrastruktur dibangun begitu pesat dibawah kepemimpinan Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, M. Si.
Memang benar, Bupati Banyuwangi saat ini sangat jago dan lihai dalam membangun jejaring sehingga Banyuwangi dengan begitu pesat lahir dengan wajah berbeda ketika ia untuk kedua kalinya menginjakkan kakinya di Banyuwangi, Sabtu (11/11) malam. Pembangunan luar biasa apik, wisata alam yang semakin menggeliat, prestasi yang diraih Banyuwangi juga sangat mentereng mengalahkan kota dan kabupaten lain.

Dengan waktu yang begitu singkat selama dua hari tiga malam, Olan mencoba membuktikan dan mencoba mengeksplor apa saja yang dimiliki Banyuwangi, itulah tujuan utama Olan melanglang buana di wilayah ujung timur pulau jawa. Namun ia tidak berjalan sendiri, ia ditemani reporter online beritarakyat.id Fattahur Rohman.

Pertemuan malam itu, Olan berkeinginan mencoba kuliner malam dan menginap di suatu tempat yang aasri dengan suasana pedesaan yang letakknya jauh dari perkotaan. Dipilihlah Homestay Ijen Minner di Desa Tamasari Kecamatan Licin, Banyuwangi. Kenapa dipilih di tempat itu, karena ia berkeinginan menjelajah dan menaiki puncak Gunung Ijen yang terkenal dengan Blue Fire -nya itu. Namun niat baik itu tertunda lantaran hujat lebat selama satu hari penuh di Banyuwangi. Sehingga, jalur menuju Gunung Ijen sedang tidak bersahabat.

Perjalanan dilanjutkan pada Minggu (12/11) pagi disekitaran kaki Gunung Ijen diantaranya, berkeliling Desa Tamansari dan memotret kehidupan sehari-hari para petani di lereng Gunung Ijen yakni para petani kentang dan peternak madu. Disitu ia menemukan kearifan lokal dan keramahan para penduduk desa yang mayoritas para petani tersebut. Selanjutnya ia melanjutkan perjalanan di sekitaran perkebunan milik PT. Lidjen dan sejenak melepas dahaga sambil menikmati keindahan air terjun kembar yang dikenal masyarakat Banyuwangi sebagai air terjun Jagir. Seperti menemukan ketenangn mendengar gemericik air mengalir.

Kemudian, perjalanan dilanjutkan dengan mencicipi makanan khas Banyuwangi yakni pecel pitik dan kue cucur di Desa Adat Kemiren Kecamatan Glagah. Sebelum mencicipi makanan khas Banyuwangi, ia menyempatkan memotret kebudayaan lokal suku adat Osing dan tempat tinggal suku osing yang khas dengan rumah gebyok lengkap dengan asesoris perabotan kuno tempo dulu. Bahkan, ia sempat berbincang dengan para warga sekitar yang mengenakan kebaya dan kain batik gajah oling sedang memilih-milih perabotan dapur terbuat dari tanah liat dan bambu. Terasa akrab diselingi canda tawa pertemuan singkat dengan nenek yang mulut dan giginya berwarna merah usai mengunyah pinang dan tembakau. Kata orang Banyuwangi, kebiasaan nenek jawa itu sering disebut dengan nginang.

Siang itu, hujan deras tiba-tiba mengguyur. Tapi tak menyurutkan semangat mengeksplor Banyuwangi. Perjalan dilanjutkan dengan bertemu pekerja belerang yang sedang mengepak belerang usai ditimbang di Desa Tamansari Kecamatan Licin. Melihat waktu mendekati malam hari, segera beranjak ke tempat lain yakni menemui salah satu tokoh asli suku osing yakni Hutomo Darwis pemilik Ijen Isun Village di Jl. Raya Lijen, Desa Banjarsari, Kecamatan Glagah. Disitu, banyak perbincangan yang diutarakan berkaitan erat cerita Banyuwangi. Dari mulai wisata, adat dan budaya, sosial, hingga membahas isu politik serta pemerintahan yang lagi hits di Banyuwangi ditemani secangkir kopi ijen dan kue cucur, khas Banyuwangi.

 

Kawah Ijen dan Hutan Alaspurwo Kekuatan Daya Tarik dan Magic

Usai semalaman berbincang dengan salah satu tokoh yang diketahui mantan anggota DPRD Banyuwangi ini dan dirasa cukup tenaga untuk melanjutkan perjalan yang sebelumnya tertunda. Akhirnya, Senin (13/11) dini hari sekira pukul 01:30 WIB berhasil menginjak rumput paltuding dan hendak mendaki Gunung Ijen yang memeliki ketinggian 2443 meter diatas permukaan laut dengan jarah tempuh sekitar 3 kilometer. Alhamdulillah malam itu langit sedang cerah dikelilingi bintang-bintag bersinar diatas langit menghibur perjalanan dua orang yang sedang bertatih-tatih mendaki gunung hingga mencamoai puncak. Lelah, lemah, dan lesu seketika sirna saat dihadapkan dengan kepulan asap kuning yang menyelimuti api biru menyala tempat para penambang mengais rejeki hingga mengorbankan tubuhnya terluka akibat memikul beratnya hidup dan beratnya dua keranjang berisi belerang.

Terasa indah memang melihat pemandangan api biru. Namun, dibalik itu semua tersimpan raut wajah para penambang belerang yang meringkik demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rasanya enggan meninggalkan tempat itu. Tapi perjalanan masih panjang. Sekitar tiga jam kemudian usai menuruni jalur berliku Gung Ijen. Perjalanan berlanjut ke Taman Nasional Alas Purwo yang konon banyak menyimpan cerita mistis serta dihuni makhluk gaib.

Di salah satu tempat yang memiliki pura tertua ini, juga banyak ditemui para petapa yang bermeditasi puluhan tahun.
Suasana hening serta merinding ketika memasuki pintu Alas Purwo yang menimbulkan rasa penasaran yang sangat kuat ingin memasuki hutan lebat ini. Hingga akhirnya usai memakir kendaraan, bergegas melakukan perjalanan kembali memasuki hutan menuju Gua Istana yang konon dulunya Presiden Soekarno sempat menginjakkan kakinya di gua ini. Ternyata benar, menurut salah satu petapa yakni Arif menyebut dulunya Bung Karno pernah ke Alas Purwo, tapi entah apa yang dilakukannya.

Selain berbincang soal Bung Karno, petapa itu juga menyampaikan banyak petuah leluhur yang disampaikan pada perbincangan mengeksplor kekayaan Banyuwangi ini. Ada makna yang bisa diambil dari perbincangan dengan petapa tersebut yakni, sebelum memasuki Banyuwangi, hendaknya menyapa terlebih dulu atau kulonuwun dulu ke AlasPurwo atau ke tempat para leluhur Banyuwangi agar dalam melakukan perjalanan tidak ditemui hambatan apapun.

Hal itu memang benar dirasakan pada perjalanan itu. Salah satu contoh, perjalanan menumui beberapa tokoh dan narasumber diberi kemudahan. Bahkan, hujan yang melanda deras Banyuwangi seakan mengerti kapan reda dan kapan hujan turun deras. Suatu nikmat tersendiri rupanya.


Setelah seharian penuh melakukan perjalanan, perjanan berakhir dan beristirahat kembali ke Ijen Isun. Karena keesokan harinya sekitar pukul 09:05, Selasa (14/11), pesawat Nam Air menunggu di Bandara Banyuwangi untuk mengatar keberangkatan Olan kembali menuju Jakarta. Sebelum meninggalkan Banyuwangi, ia sempat berpesan bahwa perjalanan tersebut cukup berkesan. Rasa salut diutarakan meski hanya sesaat menilik kekayaan Banyuwangi. Namun, ia juga menilai ada beberapa yang perlu diperbaiki oleh Banyuwangi salah satunya yakni soal infrastruktur yang masih kurang. Salah satu contoh, di Stasiun Karangasem harus ditambahi kursi agar ketika wisatawan hendak berangkat maupun pergi bisa beristirahat dengan santai dan tidak kebingungan mencari tempat rehat, meskipun itu hanya sejenak.

Reporter : Fattahur

Categorised in:

No comment for Banyuwangi di Mata Jurnalis Jakarta, Hasiholan Siahaan XIV

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*